Mungkin kita jarang ataupun belum
pernah mendengar tentang sungai yang ada di bawah (dasar) laut. Jangankan
melihat sungai tersebut, menyelam saja hanya beberapa orang yang bisa sampai ke
kedalaman yang cukup untuk melihat sungai tersebut.
Akhir-akhir ini banyak penemuan dan
penelitian tentang sungai di bawah laut ini. Antara lain yaitu sungai bawah
laut di Cenote Angelita dan sungai raksasa di dasar Laut Hitam. Penemuan
dilakukan baik dilakukan dengan penyelaman oleh orang yang bersangkutan secara
langsung maupun dengan robot penyelam (underwater robot).
Sebelum
masuk ke Cenote Angelita, kita harus mengerti arti "Cenote". Kata
"Cenote" itu berasal dari kata suku maya "D'zonot" yang
berarti "sebuah lubang/gua bawah tanah yang memiliki air". Sedangkan
"Angelita" berarti"malaikat kecil". Jadi Cenote Angelita
berarti "Gua Malaikat Kecil". Istilah Cenote ini digunakan untuk
merujuk kepada gua/lubang yang ada di semenanjung Yucatan, Mexico. Selain
Cenote Angelita, di semenanjung Yucatan, ada Cenote-Cenote lainnya, seperti
Cenote Aktun Ha, Cenote Calavera, Cenote Chac Mool dan lain-lain. Formasi
gua-gua ini terhubung dengan laut dan terbentuk sekitar 6.500 tahun yang lalu.
Cenote Angelita sebenarnya sebuah gua berair di tengah hutan, bukan di laut,
walaupun airnya memang terhubung dengan laut. Jika kita menyelam ke dalam Cenote
Angelita, kita akan menemukan air tawar pada kedalaman 30 meter pertama yang
kemudian diikuti dengan air asin pada kedalaman 60 meter. Pada kedalaman itu
juga kita bisa melihat sungai dan pohon-pohon di dasarnya. Mengapa air asin dan
air tawar tidak bisa bercampur? Hal ini diterangkan Allah dalam firman-Nya yang
berbunyi : “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang
ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara
keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53). Dalam
penelitian ilmiah, hal ini terjadi karena adanya sebuah fenomena yang disebut
Halocline. Halocline adalah sebuah zona vertikal di dalam laut dimana kadar
garam berubah dengan cepat sejalan dengan perubahan kedalaman. Perubahan kadar
garam ini akan mempengaruhi kepadatan air sehingga zona ini kemudian berfungsi
sebagai dinding pemisah antara air asin dan air tawar. Lalu bagaimana dengan
sungai di dasar tersebut? Sebenarnya sungai tersebut hanyalah ilusi. Deskripsi
yang paling tepat untuk menyebutnya, bukan sungai, melainkan kabut/awan, karena
lapisan yang terlihat seperti sungai itu adalah lapisan Hidrogen Sulfida.
Lapisan ini membentuk kabut/awan tebal yang membuat ilusi sungai. Lapisan
Hidrogen Sulfida ini terbentuk akibat pohon-pohon atau organisme yang membusuk
di dasar Cenote. Karena itu lapisan ini memiliki bau yang tidak enak, seperti
telur busuk (mungkin sebagian dari kalian juga tahu kalau kita juga
mengeluarkan gas ini ketika kita buang angin). Selain karena aktifitas bakteri
pembusukan, gas ini juga bisa dihasilkan oleh aktifitas gunung berapi. Dalam
kadar yang tinggi, gas ini berbahaya bagi manusia karena bisa mengganggu
beberapa sistem dalam tubuh manusia. Bagimana dengan pohon di dasar? Jawabannya
adalah karena Cenote ini terletak di tengah Hutan. Tentu wajar kalau ada batang
pohon dan dedaunan yang jatuh ke dalam dasar Cenote.
Yang
kedua yaitu sungai raksasa yang ditemukan di dasar Laut Hitam. Sungai ini
ditemukan oleh ilmuwan Inggris. Yang luar biasa, sungai ini ditemukan di dasar
Laut Hitam, sebuah laut dalam antara Eropa tenggara dan Asia Kecil. Para
ilmuwan dari Leeds University mengerahkan kapal selam robot untuk meneliti dan
memindai dasar laut di dekat Turki itu. Seperti halnya di daratan, sungai di
bawah laut itu memiliki saluran, anak sungai, dataran banjir, aliran deras air,
dan bahkan air terjun. Sungai yang ditemukan di dasar Laut Hitam, memiliki
kedalaman 115 kaki dan lebarnya lebih dari setengah mil. Jika berada di
daratan, para ilmuwan memperkirakan, perairan yang ditemukan di Laut Hitam,
adalah sungai keenam terbesar di dunia, dalam hal jumlah air yang mengalir.
Aliran air, yang membawa air asin dan sedimen, 350 kali lebih besar dari Sungai
Thames di Inggris. Ini adalah satu-satunya sungai bawah laut aktif yang
ditemukan. Letaknya di Selat Bosphorus
yang mengalir dari Mediterania ke Laut Hitam. Aliran air sungai bawah tanah itu
disebabkan perbedaan kadar garam. Ini menyebabkan air Mediterania mengalir
seperti sungai, yang menciptakan alur-alur dan genangan yang dalam. Penemuan
ini akan membantu menjelaskan bagaimana kehidupan bisa bertahan di kedalaman
laut, yang jauh dari perairan kaya nutrisi karena jauh dari tanah. Sungai bawah
laut lah yang bertugas membawa sedimen dan nutrisi. Menurut Dr. Dan Parsons,
pemimpin tim peneliti dari Sekolah Tinggi Ilmu Bumi dan Lingkungan, Universitas
Leeds, kepada Sunday Telegraph, mengatakan, "Kepadatan air di sana lebih
padat dari air laut di sekitarnya karena memiliki salinitas yang lebih tinggi
dan membawa begitu banyak sedimen." "Sungai itu mengalir dari beting
laut dan keluar melalui daratan abisal, seperti halnya sungai di darat,"
demikian penjelasan Parsons seperti
dimuat laman Daily Mail, Minggu 1 Agustus 2010.
Dataran abisal di laut mirip seperti di gurun pasir, bedanya dataran air
ini bisa menyediakan nutrisi dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk mahluk yang
hidup di dalamnya. "Itu memiliki peran yang penting, seperti arteri, yang
memberikan kehidupan di laut dalam." Perbedaan utama sungai di bawah laut
ini adalah bahwa aliran air berlawanan dengan sungai-sungai di darat. Para
ilmuwan telah lama menduga bahwa keberadaan sungai dasar laut sangat masuk
akal, setelah pemindai sonar mengungkapkan adanya saluran berkelok-kelok
di banyak lautan di dunia. Dr Parsons menemukan bahwa sungai bawah tanah di
dasar Laut Hitam mengalir dengan kecepatan sekitar empat mil per jam,
mengalirkan 22.000 meter kubik air per detik. Ini 10 kali lebih besar dari
sungai terbesar Eropa, Rhine.
Sungai
bawah laut ini mengalir hanya sekitar 37 mil hingga mencapai tepi beting laut
sebelum menghilang ke laut dalam.
Adanya
sungai di dasar laut ini membuktikan kebenaran firman Allah pada ayat Al-Quran
tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering
diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi “Dia biarkan dua lautan
bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.”
Sungai di bawah laut merupakan
sebuah fenomena alam yang sangat luar biasa. Bahkan banyak peneliti dan
penemu-penemu yang terkagum-kagum mengetahuinya. Tidak sedikit pula yang
menjadi seorang mualaf setelah mengerti jika fenomena tersebut sudah tercantum
dalam Al-Quran yang pada saat diturunkannya masih belum ada teknologi yang
canggih untuk menemukan sungai tersebut. Oleh karena itu kita yang telah
mengetahui akan hal ini marilah bersama-sama meyakini kebenaran dari Al-Quran.



0 komentar:
Posting Komentar
Kritik anda adalah kemajuan kami